rekam jejak

August 25, 2008

bagaimana nasib blog ini?
he.. he…. mengenaskan, lama tak di tengok, lama juga tak di isi. Jawabannya simpel.. ” males”.. begitulah,
dan seperti itulah yang banyak terjadi di blog-blog yang lainnya bukan???
tidak juga mungkin ya.. hanya perasaan diri ini saja (he… he…)

kedepannya gimana, entahlah..
yang jelas di lakoni saja..
oke..

Memulai sesuatu

May 12, 2008

Memulai sesuatu yang kita tahu lebih menyenangkan bukan? dari pada kita memulai sesuatu tapi kita buta dan nekad.
Yang diri ini tahu, jika ingin memulai sesuatu, Percayalah dengan kekuatan Sang Maha Pencipta, di mulai dengan meminta ke Dia yang Maha Mengetahui apa yang terbaik untuk hamba-Nya. Memintalah kita seperti yang Dia ajarkan melalui wahyu-Nya, melalui pentunjuk-Nya. Lalu berikhtiarlah kita sesuai dengan apa yang juga telah di gariskan-Nya. Berusahalah kita sesuai dengan rambu-rambu yang Dia wahyukan.
Begitu bukan? jika kita ingin melakukan sesuatu…
Itu yang diri ini percaya. salahkah?

Menata hati

April 23, 2008

ehm… mulai dari mana ya? melakukan sesuatunya, sering bingung kita, ketika hati merasa tidak nyaman, fikiran tak karuan dan otak dipenuhi ketidakteraturan.
jawabannya ternyata dari diri kita juga kan….
harus ada keberanian minimal ada kemauan untuk melakukan langkah pertama, lalu di ikuti langkah kedua, kemudian ketiga dan seterusnya, agar apa yang membuat kita bingung akhirnya terurai, terpecahkan dan menghasilkan suatu solusi.

bicara apa (he… he..)
entahlah

Pagi 10 April 2008 udara cerah tak ada kerjaan, leyeh-leyeh liat tv. Pk 08.16 tiba – tiba ada penelpon dari +6281318654369. Tak kenal diri ini dengan no telpon itu. Terfikir mungkin ada no baru dari teman, ternyata bukan.

“apa benar benar ini no bla..bla..bla (menyebutkan nomor diri ini)..”
“benar….,”
”Oke, kami dari telkomsel, nama saya Adi Setiawan, terlebih dahulu kami ucapkan selamat, Bapak melihat acara di trans tv tadi malam?… “
“tidak”
“Selamat bapak mendapatkan undian dengan hadiah uang tunai 15 juta rupiah dari telkomsel dan pulsa sebesar nominal 1 juta rupiah.”
“Terima kasih, tapi bagaimana cara mengambilnya?”
“Tenang, semua pajak undian di tanggung telkomsel jadi bapak tidak perlu menanggung pajak undian, ada dua cara pengambilan hadiah, yang pertama bapak datang langsung ke telkomsel Jakarta atau bisa di transfer, bapak punya rekening yang ada atm nya?”
“Punya..”
“Berapa nomor rekeningnya…”
“Bla..bla..bla (menyebutkan nomor rekening diri ini)..”
“Oke, bapak bisa ke atm sekarang?”
“Koq harus ke atm?”
“Begini, kami telah memprogram untuk promosi, jadi bapak ke atm, selanjutnya akan kami rekam untuk bahan promosi..”
“Bagaimana caranya? Gmana programnya?”
“Yang penting bapak sekarang ke atm saja dulu, nanti kami pandu..”
“Maaf saya tidak bisa ke atm sekarang saya lagi sibuk..” (padahal lagi ndak ada kerjaan, kecuali nerima telpon dari penelpon itu sambil tiduran)
“Oh begitu, kapan bapak ada waktu ke atm?”
“Apa tidak bisa kalo tanpa ke atm langsung di transfer aja?”
“Begini pak demi untuk keperluan promosi maka di perlukan bapak ke atm, bisakah bapak meluangkan waktu ke atm? Sebentar saja…”
“Maaf saya sangat sibuk, kerjaan saya tidak bisa di tinggalkan..” (tetep padahal posisi tiduran), “ memang pengumuman undian di transtv nya jam berapa?”
“Jam Sembilan tadi malam..”
“Siapa pembawa acaranya?..”
“Anu… bla..bla..bla.. (tidak jelas) gmana bisakah bapak meluangkan waktu sebentar saja ke atm..”
“Maaf sekali lagi saya lagi sibuk tidak bisa meninggalkan tempat, memang tidak bisa langsung di transfer saja kah tanpa saya harus ke atm?”
“Kalo begitu kapan bapak bisa ke atm, nanti kami hubungi untuk memandu bapak..”
“Saya tidak bisa ke atm, langsung saja transfer ke rekening yang saya sebutkan ya…”
“Bapak..bapak… (tuuuuuuuuuut tuuuuuuuut tut.. telpon pun di putus..)..”

Ada sekitar 15 menit pembicaraan dengan penelpon itu. Pas saat menyampaikan dia dari telkomsel dan diri ini dapat hadiah, kejanggalan nya adalah nomornya bukan no kantor, apa ada ya perusahaan menelpon untuk menyampaikan hadiah dari no telpon selular. Kemudian kejanggalan yang kedua, kenapa harus rekening yang ada atm nya. Kalau benar adanya pasti tak perlu sibuk berulang-ulang menanyakan apa rekeningnya ada atm. Mulai dari situ diri ini tidak nyaman, terfikir mau langsung di tutup saja, tapi ah… orang ini inginnya seperti apa sih.. di dengarkan saja, ikuti saja lah.. ya begitulah selanjutnya. Sebenarnya sempat ingin nyoba ke atm, toh no rekening yang diri ini sebutkan tak ada isinya dan kira-kira selanjutnya apa yang akan orang tersebut instruksikan.. tapi berhubung belum mandi males jadinya… (ha…ha… sutralah…).

Berhenti atau terus

April 1, 2008

Bekerja selain mengaktualisasikan diri, tentunya tujuan yang paling harus di akui adalah pemenuhan kebutuhan hidup bukan? makan, tempat tinggal dan lainnya sebagainya.
Sebagai orang yang sekarang sedang tak tinggal di rumah orang tua, pilihan untuk tinggal nge-kost bukannya tanpa beban ketika pendapatan dari hasil kerja tak lagi ada atau belum ada cuman ndak tau mau adanya kapan.
Ini bukan cerita diri ini di PHK atau mem PHK kan diri, tapi sebuah dilema ketika tak mendapatkan hak yang seharusnya di terima setelah sebulan berselang.
Semuanya berawal dari kondisi tempat bekerja sedang mengalami kesulitan keuangan, tagihan dari isp yang tertunggak sekian juta, sehingga memaksa semua pihak harus mengerti jika pembayaran cicilan ke isp lebih di dahulukan ketimbang hak (gaji) atau pilihannya hak dibayarkan kemudian selanjutnya ujungtombak usaha di putus. Awalnya hanya tertunda beberapa hari, tapi kemudian minggu, ternyata sekarang telah bulan.
Resah juga akhirnya teryata..
Apakah layak sekarang terus bertahan? ataukah tidak keterlaluan ketika tempat bekerja sedang susah, diri ini pergi?

Liat blognya (3)

March 31, 2008

Pertama kali ada keinginan membuat blog, salah satunya karena membaca blog ini

mybothsides.jpg

Blog ini menarik buat diri ini. Gaya tulisannya asik buat diri ini. meloncat pagar idenya, juga kontemplasi dan pemikirannya. yah senang pokoknya lah

Liat blognya (2)

March 30, 2008

Melanjutkan tulisan sebelumnya, berikutnya blog yang paling sering diri ini kunjungi adalah blognya Pak Budi Rahardjo

rahard.jpg

Mengapa paling sering diri ini kunjungi? karena blog ini menarik (he..he..). Mengapa menarik?
Menurut diri ini yang membuat menarik adalah warna/ragam tulisannya. Membuat diri ini tak bosan. Selalu ada saja yang bisa diceritakan. Selalu update. Sampai muncul pertanyaan kapan ya bisa kayak bapak yang satu ini. Menulis tanpa beban. Semuanya mengalir saja tanpa hambatan. Jadinya ketika satu hari saja tak membuka blog ini, perasaan ada tertinggal. ya seperti gimana gitu…
oh ya… review ini sangat subjektif (berdasarkan perasaan dan kenyamanan diri ini)..

Liat blognya (1)

March 29, 2008

Hari ini sebenarnya kerja, tapi ndak ada kerjaan (ha..ha.. bahasa lainnya lagi males). Entahlah… nama orang paling ya? ada bosennya. Trus ndak tau ada angin apa tiba-tiba muncul keinginan untuk review blognya orang. blog yang sering diri ini baca. yah sebagai bentuk apresiasi dan salut dari diri ini buat mereka (gitu ceritanya..). Semoga mereka berkenan dan sekalian melalui tulisan ini, diri ini mohon ijin. Pada perjalanannya reviewnya sangat subjektif (berdasarkan perasaan dan kenyamanan diri ini).
Pertama blog yang pengen diri ini riview adalah blognya Paman Tyo.

blogombal2.jpg

Blog ini adalah blog yang menempati urutan pertama yang dibuka ketika diri ini sedang browsing. Ada perasaan kangen ketika beberapa hari tak membuka blog ini. Ada perasaan tertinggal ketika satu saja postingan yang terlewatkan. Muncul perasaan bangga ketika komentar diri ini di jawab (ha..ha…ha..). Yah.. begitulah.
Menurut diri ini, yang menyenangkan dari blog ini adalah kejutannya. Kenapa kejutan? nah lho… kenapa ya..
karena topiknya kadang/sering di luar dugaan diri ini. Tak terfikir, tak terlintas diri ini. Membuat diri ini senyum sendiri membacanya. Membuat diri ini bertanya koq bisa ya? juga membuat diri ini garuk-garuk kepala (he.. he.. bingung) maksud nya apa ya tulisan ini?
Kadang diri ini sampai beberapa kali mengulang bacaan satu postingan tertentu karena susah ngeh dengan maksudnya. Kadang juga diri ini nyerah, yah sudah memang kemampuan diri ini saja yang pas-pasan, sehingga belum/tak bisa menyerna makna yang terkandung di balik tulisan-tulisan ada.
Yang jelas diri ini senang dengan blog ini, itu dulu ah

Perpisahan

March 9, 2008

Adakah yang menyenangkan dari sebuah perpisahan? ada saja mungkin ya..
tapi koq tak sedikit yang merasakan perpisahan itu menyisakan kepedihan dan ketidaknyamanan.
Terfikir sampai sedalam apa ya ketidaknyaman yang paman itu rasakan ketika memutuskan untuk berpisah atau memisahkan diri dari apa yang biasa di kerjakannya. Sungguh memerlukan keberanian …

Hari ini mendung, ketika sebuah keputusan perpisahan di lontarkan. Tak ada persiapan, tak ada perencanaan. Semuanya seperti spontan terjadi begitu saja.
Duh.. remuk rasanya, seluruh persendian seperti copot tak pada tempatnya. Mengganggu rutinitas tidur, mengganggu kenikmatan makan, memorakporandakan hati..
sebegitukah rasanya perpisahan…

manakah..

March 7, 2008

Jawab, apa yang harus dilakukan ketika ada pilihan tapi semuanya tidak mengenakkan?
apakah memilih yang tidak mengenakkannya sedikit.. hayo.. gmana?

Alkisah ketika ada seseorang lelaki menjalin hubungan dengan seorang perempuan, bertahun-tahun lamanya. Harapan dalam hubungan tersebut adalah pernikahan.
Si lelaki merasa tidak cukup penghasilannya ketika hendak mengajak perempuan menikah, dan ingin mengambil opsi pindah bekerja di suatu daerah lain. Berharap si perempuan bersedia bisa di ajak kemana saja, karena prinsip si lelaki mencari nafkah itu tidak bisa di batasi di suatu daerah.
Sementara si perempuan tidak mau di ajak kemana-mana, karena sudah merasa nyaman di wilayah tinggalnya yang sekarang dan untuk memulai kehidupan di tempat yang baru, menyesuaikan diri dengan lingkungan baru adalah perkara yang tidak gampang katanya dan engganlah si perempuan. Juga jauh dari orang tua tidak meng-enakkan kata si perempuan. Tidak, tidak mau kata si perempuan.

Gerangan apa yang perlu di lakukan si lelaki ketika dia berharap perpisahan bukanlah pilihan yang baik. Apakah tetap tinggal, dan bertahan dengan penghasilan apa adanya, sehingga cita-cita ketika setelah menikah kehidupan anak-anaknya tercukupi hanya tinggal impian? ataukah pergi saja kedaerah lain dengan konsekuensi berantakan hubungan tersebut?